MITOS IDEOLOGI

Konon, ada mitos di lingkungan mahasiswa jurusan pendidikan sejarah (mahasiswa sejarah). Merah, itu dia mitosnya. Saya pernah ngobrol dengan seorang mahasiswa baru, kira-kira 3 tahun yang lalu, kalau di sejarah itu agak kemerah-merahan. Entah merah karena almamater fakultasnya, entah apanya. Yang pasti, si mahasiswa baru itu sempat khawatir dengan mitos itu. Ternyata, konon katanya, mitos kemerah-merahan mahasiswa sejarah itu kini berubah menjadi kehijau-hijauan. Entah karena banyaknya daun muda yang masih hijau, atau karena hijau lebih seksi dari pada merah. Entah apa jawabnya.

Tapi, ada yang menarik dari mitos merah dan hijau ini. Mungkin, ramainya pewarnaan ini karena adanya sebagian mahasiswa sejarah yang memang menganggapnya sebagai simbol atau ideologi. Lalu, apa sih ideologi itu? Ada yang bilang cara pandang. Tapi, cara pandang yang bagaimana? Apa jika kita melihat seorang cewe cakep kemudian saya liat biasa aja tapi ada yang lain bilang luar biasa cakepnya? Atau, misalnya ada cewe kemudian si A bilang enaknya tu cewe di gituin, dan si b di ginu’in?

Nah, konon, singkatnya, ideologi adalah kebersesuaian antara apa yang dipikirkan dengan yang dilakukan. Mau yang lebih singkat padat atau kurang jelas? PRAXIS. Masih tidak paham? Kesatuan tindakan antara yang dipikirkan dan yang dilakukan.

Ideologi adalah kebersesuaian antara apa yang dipikirkan dengan yang dilakukan

Ideologi adalah kebersesuaian antara apa yang dipikirkan dengan yang dilakukanAda ideologi yang paling keren. Marxis. Saya yakin, tidak semua orang yang mengaku dirinya menganut ideologi tersebut tidak se-ideologis pendirinya. Konon, Marx di akhir hidupnya mengalami kesengsaraan dan bahkan salah satu bagian keluarganya ada yang meninggal karena kesengsaraan tersebut. Suatu hari, ada seorang agamawan mengajaknya untuk kembali pada ajaran yang dianut sebelumnya dan menjanjikan tidak sengsara lagi jika ia kembali. Namun, apa yang terjadi? Konon, Marx menolak ajakan tersebut. Ia tetap dalam kesengsaraan sampai akhir hidupnya. Inilah ideologi. Ketika seseorang sudah yakin akan jalan pikiran yang dianut, maka pelbagai tingkah laku pun selalu ia tempatkan dan disesuaikan dengan keyakinannya tersebut.

Ada lagi. Tentu tahu Muhammad saw.. tidak banyak orang yang mengangap dia adalah seorang ideolog. Bahkan oprang-orang yang sok tahu itu, menganggap ideologi cuma yang ada dibuku-buku tentang paham-paham atau ideologi-ideologi, seperti sosialisme, kapitalisme, marxisme, liberalisme, dll. Muhammad saw. seorang ideolog, tapi ideologinya itu Islam. Tunduk pasrah pada Tuhan yang Esa (monoteis). Oleh karena itu, ide-ide dia tentang keesaan Tuhan, ia manifestasikan dalam perbuatan, misalnya menghancurkan masyarakat feodal ketika itu, menegakkan keadilan dengan membagi harta waris kepada perempuan, setahap demi setahap untuk menghapuskan perbudakan, dsb. Ketika ia pernah ditawari oleh pemukan Quraisy untuk meninggalkan ajarannya, tetapi kemudian ia menolakanya, ia tetap memang teguh perjungannya walaupun banyak orang-orang Mekkah ketika itu memusuhinya, melukai fisiknya, bahkan berusaha membunuhnya.

Nah, lalu apa itu simbol? Simbol atau tanda adalah sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu. Pada semiotika struktaralis, dalam suatu tanda terdapat penanda (objeknya) dan petanda (pemaknaannya). Jika seseorang mengataklan dirinya kemerah-merahan atau kekiri-kirian atau “berada disimpang kiri jalan” harusnya memiliki representasi atau pemaknaan yang tidak jauh melncenga dari pernytaanya itu, misalnya mengikuti organisasi yang berideologi serupa (ada satu-satunya organisasi di kampus yang perjuangannya identik dengan ideologi itu. Apa? Cari aja sendiri!). mustahil jika seseorang mengatakan dirinya penganut sebuah ideologi tanpa mengaktualisasikan dirinya dalam organisasi, karena mustahil seseorang dapat mengaktualisasikan dirinya tanpa organisasi. Walaupun tidak mengikuti organisasi yang pasti ia harusnya dalam memperjuangkan apa yang diajarkan dalam ideologinya itu secara praktik. Jadi, cukup identik antara semiotika stukturalis dan ideologi.

Bahkan yang lebih parah lagi, jika seorang mahasiswa mengaku menganut suatu ideologi, tetapi kerjaannya kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang)

Bahkan yang lebih parah lagi, jika seorang mahasiswa mengaku menganut suatu ideologi, tetapi kerjaannya kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang)Tapi kemudian muncul semiotika posstrukturalis. Dalam tanda, petandanya tidak harus melulu merepresentasikan penandanya. Jika seorang mengaku dirinya menganut atau mendukung ideologi kekiri-kirian, kemerah-merahan, atau “berada di simpang kiri jalan”, maka belum tentu ia mengaut secara utuh, serius dan sungguh-sungguh dalam membela ideologi tersebut. Bisa saja dia hanya menampilkan bahwa dia seorang kiri, kanan, merah dsb tetapi dia hanya menampilkan simbolnya saja tetapi belum tentu memeiliki representasi dalam petandanya yang tak terlepaskan dari penandanya; dalam perilakunya, perjuangannya tidak harus atau bahkan tidak sama seperti yang digariskan dalam ideologinya. Misalnya, seseorang mengaku dirinya kiri, kanan, merah dsb tapi ia hanya ngomongnya saja atau melontarkan ide-ide dari ideologinya itu saja, tetapi dalam tingkah laku dan tidak ikut melakukan perjungan seperti yang telah digariskan, atau ia menganggapnya agar dikagumi oleh orang lain, gaya-gayaan, sok iye, sombong, supaya keliatan pinter, dan yang pasti tidak merepresentasikan ide-ide dari ideologinya itu. Seperti laiknya seseorang yang memakai baju Che Guevara, Tan Malaka, atau lainnya, tapi landasan dari dipakainya itu hanya kagum, idola, gaya-gayaan, supaya diperhatikan orang, keren-kerenan dsb. Sama sekali dangkal, absurd, konyol, posmo, fetisisme komoditi, dsb. Bahkan yang lebih parah lagi, jika seorang mahasiswa mengaku menganut sebuah ideologi, tetapi kerjaannya kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang).

Kemudian pertanyaannya apakah mitos beberapa ideologi yang ada di mahasiswa sejarah ini benar-benar ideologi ataukah simbolik an sich?

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s