Ketundukan Fisik

Sebagian dari kita pernah menyasikan sebuah tayangan di film tentang perkelahian antara dua pihak dimana salah satunya mengalami kekalahan. terlepas dari judul film tersebut. ketika pihak yang satu mengalamai kekalahan dari pihak lainnya, ia mengangkat tangan sebagai tanda menyerah dan tidak akan menyerang lagi. dia takluk kepada lawannya dengan penuh kepasrahan. namun dalam pikiran dan hati pihak yang kalah tersebut tetap berkeinginan untuk melepaskan dari kekuasaan musuhnya secara kuat tenaga pada lain kesempatan.

Dalam sejarah terdapat negara Jerman yang kalah perang dalam Perang Dunia I terpaksa menerima keputusan dalam perjanjian Versailles yang jelas-jelas sangat merugikan pihak Jerman. namun, dalam benak sebagian rakyat Jerman ingin melepaskan diri dari isi perjanjian tersebut dan ingin menguasai atau mengalahkan pihak-pihak yang dianggap musuhnya. dari hal ini kemudian melahirkan atau menghasilkan perang yang sangat dahsyat di muka bumi ini dan konon menewaskan kurang lebih 50 juta jiwa, Perang Dunia II.

Bagi sebagian guru, pasti pernah menyaksikan ketika anak didiknya pada pagi hari hadir di sekolah tetapi sebelum bel akhir berbunyi tetapi kemudian tidak menemukan anak didik tersebut. atau bahkan pernah memberikan suatu tugas (baik terstruktur ataupun tidak) kepada siswa tetapi kerapkali tidak pernah dipenuhi oleh pihak yang diberi tugas.

Dalam dunia kerja, pernahkan kita menyaksikan karyawan-karyawannya pulang atau hadir tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan. dalam hal penugasan dan kehadiran, kita sudah memberikan penjelasan secara rasional yang mencakup alasan-alasan logis mengapa diberikan tugas dan mengapa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah tanpa seijin guru atau pihak berwenang. sedangkan dalam dunia kerja kita pun telah mendapatkan ataupun memberikan penjelasan secara logis dan rasional mengapa hal tersebut perlu dilakukan. sebagai contoh, dalam profesi guru terdapat sebuah aturan bahwa guru diwajibkan hadir beberapa menit sebelum jam pelajaran dimulai agar dapat menyambut kehadiran siswa di sekolah. dan ketika meninggalkan sekolah diwajibkan beberapa menit setelah semua siswa tidak terdapat di sekolah lagi dengan alasan mempersiapkan bahan ajar untuk esok hari ataupun pelbagai alasan lainnya. namun, semua alasan yang telah kita berikan tersebut tetap tidak dipatuhi oleh pihak2 yang telah menerima aturan dan penugasan. jadi, dari beberapa kasus di atas terdapat sebuah masalah yaitu berupa kepatuhan atau ketundukan atau dalam bahasa sosiologi disebut perilaku konformis.

Murthada Muthahari, ulama Syi’ah dari Iran, dalam bukunya yang berjudul “Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam” menjelaskan tiga tingkatan mengenai ketundukan, yakni pada tingakatan terendah terdapat ketundukan fisik, tahap berikutnya ketundukan pikiran, dan terakhir ketundukan hati. dalam tulisan kali ini akan dibahas tentang ketundukan fisik terlebih dahulu.

pada tahap pertama terdapat kektundukan fisik. ketundukan ini dapat diperoleh dari pihak lain dengan memberikan aturan-aturan yang menundukan fisik pihak lain. sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita paham, minimanya sekedar tahu, bahwa ketika lampu lalu lintas menyalakan warana merah maka wajib hukumnya untuk berhenti dan tentunya berhenti dibelakang garis. pelanggaran akan terjadi ketika kita tetap saja melaju kendaraan kita, menginjak garis batas, menginjak zebra cross ketika lampu lalu lintas sedang menyala merah. sebagian dari kita akan patuh atas aturan tersebut jika terdapat pihak yang berwajib memerhatikan atau mengawasi dengan alasan khawatir terkena tilang, dipenjara ( ? ). sedangkan ketika tidak terdapat polisi yang mengawasi atau menjaga, mungkin sebagian dari kita akan terus melaju walaupun lampu sedang berwarna merah, berhenti di zebra cross yang tentu menghalangi penyeberang jalan untuk melawatinya.

bagi sebagian guru, kiranya pernah menyaksikan jika siswa-siswanya tidak mengerjakan tugas, pulang/datang tidak tepat pada waktunya yg dutentukan, mengerjakan tugas, rambut tidak boleh gondrong, merokok ketika berseragam, baju seragam tidak dimasukan. sebagian dari guru pula tentunya sudah sangat sering memberikan pelbagai alasan rasional mengenai aturan-aturan tersebut. aturan tersebut kemudian dipertegas dengan adanya hukuman yang diberikan seperti ketika sisiwa ketahua merokok di sekolah dan mencoba kabur dari sekolah sebagian guru memberikan hukuman yang berbentuk bullying dengan menampar ataupun memukul. dengan hukuman iini diharapkan siswa akan konformis dan tunduk.namun, ketundukan ini bersifat fisik, karena kemungkinan melakukan pelanggaran ini untuk kembali diluang sangat besar ialah ketika pengawasan tidak ketat atau selagi ada kesempatan untuk melanggar. dalam kasus tidak memasukan baju akan semakin jelas, siswa akan mengeluarkan bajunya ketika tidak ada guru galak yang melihatnya dan akan segera buru-buru memasukannya ketika guru tersebut sudah tidak melihatnya.

Inilah ketundukan yang posisinya berada dalam tingakatan terendah. ketundukan yang hanya bersifat fisik dan lahiriah, karena tidak disertai pikiran dan perasaan, sedangkan perasaannya tetap membangkang.

wallahu’alam bishawab

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s