KEKELIRUAN BERFIKIR

DALAM perilaku manusia yang berkesadaran, kegiatan berfikir tidaklah terlepas dalam memutuskan, serta menyikapi kondisi social atau permasalahan yang ada. Berfikir adalah sebuah kegiatan yang hanya dimiliki oleh manusia. Dalam proses berfikir yang kemudian dimanifestasikan kedalam pemikiran serta tindakan manusia tidaklah menutup kemungkinan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan dalam proses berfikirnya. Nah, dari alasan diatas maka dibawah ini adalah beberapa kekelirian yang kerap menjangkit pemikiran kita:

1. Fallacy of Dramatic Instance
Kekeliruan berfikir yang pertama ini kerap kali mengindap pemikiran kita. Kekeliruan berfikir ini berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan pengambilan satu atau dua kasus untuk mendukung argument yang bersifat general atau umum atau dapat juga berupa satu-dua kasus yang dialami oleh seorang individu kemudian individu itu menggenarlisasikannya pada yang umum. Untuk mempermudah kekeliruan berfikir yang pertama ini, mari kita perhatikan contoh berikut ini:
Ada seorang yang mengatakan bahwa umat Islam adalah jorok berbeda dengan umat Kristen yang dikatakan bersih. Seseorang yang mengatakan bahwa umat Islam itu jorok hanya mengambil contoh pada satu lokalitas tertentu, misalnya diwilayah Cipaku –yang wilayahnya jorok dan dapat dikatakan mayoritas Islam, sedangkan mengatakan bahwa umat Kristen itu bersih karena melihat sekolah yang ternama dan bersih serta disiplin menjalankan aturan. Ini mengindikasikan seseorang itu hanya mengambil satu-dua kasus tertentu untuk melakukan generalisasi bahwa umat Islam itu jorok.
Contoh dua, ada yang mengatakan bahwa BSK itu penuh dengan kekerasan. Orang yang mengatakan itu mengambil landasan pengukuhan pada masa lalu yang memang ada sebuah tindak kekerasan, tetapi orang yang mengatakan BSK itu penuh dengan kekerasan rupanya lupa bahwa kasus yang dia ambil itu pada pengukuhan saja –terlebih kekerasan itu bukan pada semua orang atau peserta pengukuhan- kemudian dia mengeneralisir bahwa seluruh kegiatan BSK itu penuh dengan kekerasan.
Contoh berikutnya ialah berkenaan dengan kepengurusan Himas periode 2006-2007. Pada kepengurusan itu, konon, ketika siang hari pengurus Himas masih suka tidur di secretariat Himas dan terdapat banyak puntung rokok disana-sini. Berdasarkan hal ini, maka diambil kesimpulan atau generalisasi bahwa pengurus Himas 2006-2007 itu malas dan jorok. Padahal, pengurus Himas itu banyak dan Himas pun sering kali dibersihkan atau dibereskan, serta tidak selalu atau setiap hari pengurus Himas tidur hingga siang hari. Nah, berdasarkan hanya beberapa fakta atau kasus tersebut, diambil sebuah generalisasi bahwa pengurus Himas (pada waktu itu periode 2006-2007) itu malas dan jorok dan secretariat Himas tidak terawat. Padahal pengurus juga sering melakukan pembenahan pada secretariat Himas.

2. Fallacy of Retrospective Determinism
Kekeliruan berfikir yang ini dinyatakan untuk menyebut kebiasan orang yang menganggap masalah social yang ada sekarang terjadi sebagi sesuatu yang secara hgistoris memang selalu ada, tidak bias dihindari, dan merupakan akibat sejarah yang panjang. Contoh dari kekeliruan berfikir ini ialah sebagi beikut:
Didalam sebuah perdebatan mengenai bubar atau tidaknya Bem FPIPS, terdapat sebuah argument dari salah seorang ketua umum himpunan. Penulis sepakat dengan beliau mengenai ketidak harusan Bem FPIPS untuk bubar, tetapi alasan beliau cukup menggelitik. Inti pendapat beliau adalah, beliau tidak sepakat untuk dibubarkannya Bem FPIPS dengan alasan Bem FPIPS itu sudah berdiri atau sudah ada dari dahulu.
Contoh berikutnya ialah mengenai permaslaahan Ahmadiyah. Pada sebuah kesempatan di TV, ketika itu sedang hangat-hangatnya permasalahan SKB Ahmadiyah, juru bicara Ahmadiyah berargumen untuk mempertahankan ketidak sepakatannya agar dibubarkannya Ahmadiyah dengan mengatakan bahwa Ahmadiyah itu sudah ada sejak kemerdekaan, dan ia turut membantu kemerdekaan RI oleh karena itu mengapa MUI yang baru berdiri setelah Ahmadiyah di Indonesia mengatakan bahwa Ahmadiyah itu harus dibubarkan dan disesatkan.

3. Post Hoc Ergo Propter Hoc
Singkatnya untuk menjelaskan kekeliruan berfikir ini ialah sesudah itu –karena itu- oleh sebab itu. Jadi, apabila ada sebuah peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka kita menyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua.
Contoh dari kekeliruan berfikir ini adalah dahulu di daerah kelahiran penulis ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa bila ada pejabat atau orang-orang sukses yang melalui jalan Kutagara, katanya, tidak lama pamornya akan meredup dan tidak akan sukes kembali. Dahulu Aa Gym pernah melalui jalan itu, ternyata beberapa saat kemudian ia ditimpa oleh oleh isu poligami dan kemudian yayasan yang dimilikinya tidak segemilang pada masa awal dia sukses.
Contoh berikutnya ialah ada yang mengtakan bahwa setelah pemerintahan keluarga Saudi, jumlah jemaah haji bertambah setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa hanya pemerintahan keluarga Saudilah yang bias dipercaya untuk menjadi khadimul haramain (penjaga dua tempat suci).

4. Fallacy of Missplaced Concretness
Arti dari kekeliruan berfikir ini adalah kesalahan berfikir yang muncul akibat atau karena kita mengkongkretkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak. Contoh dari kekeliruan berfikir ini ialah kita hancur karena kita berada pada suatu system jahiliyah . kita hancur Karena adanya thaghut yang berkuasa. Nah, jahiliyah dan thaghut adalah dua hal yang abstrak. Jadi berdasarkan kekeliruan berfikir ini dininyatakan bahwa sesuatu yang abstrak dikatakan sebagai seuatu yang seolah-olah kongkrit. Kita terbiasa mengatakan bahwa segala sesuatu adalah takdir Allah Swt., ketika kita tidak berhasil melakukan sesuatu kemudian dikatakan bahwa itu disebabkan oleh takdir Allah. Ini termasuk kedalam kekeliruan berfikir ini karena mengkongkterkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak.
Contohnya: ada sebuah pamphlet yang menyatakan bahwa “mengaku Islam tapi kok menolak syari’at”. Syariat jika dikatakan bahwa aturan yang “… bersumber dari wahyu, yaitu al Qur’an dan as Sunnah dan apa yang ditunjuk oleh al Qur’an dan as Sunnah yakni ijma sahabat dan Qiyas” (dikutip dari buku Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam karya Muhammad Husain Abdullah halaman 11). Orang yang menempelkan pamphlet itu hendak berkata bahwa orang Islam itu harus ikut syari’at dan itu digunakan agar orang-orang Islam mengikuti tujuan-tujuan organisasi atau orang yang menempelkan pamphlet itu, misalnya system khilafah. Syariat sendiri masih umum dan memiliki penafsiran yang beragam bagaimana kita menjalankannya.

5. Argumentum ad Verecundiam
Kekeliruan berfikir ini memiliki pengertian sebagai memberikan argument dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan dan ambigu. Otoritas adalah sesuatu atau seseorang yang sudah diterima kebenaranya. Pada pembahasan kekeliruan berfikir ini yang dibahas adalah penginteprasian atas pendapat seseorang yang telah dipastikan kebenarannya, Muhammad Saw., karena hanya dialah yang segala ucapannya mengandung kebenaran dan memiliki keabstrakan dalam ucapannya –baik firman yang disampaikan oleh Allah melaluinya ataupun haditsnya.
Contoh berikutnya penulis kutip langsung dari sebuah buku yang berjudul Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam karya Muhammad Husain Abdullah. Beliau mengatakan bahwa “ciri khas pemikiran Islam akan hilang jika terpisah –keseluruhan atau sebagian- dari wahyu. Allah melarang kita untuk melakukan pemisahan ini.” Untuk mendukung argumennya kemudian ia menukil ayat Al Qur’an yang berbunyi “barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya dan dia pada Hari Akhirat termasuk orang yang merugi” (QS Ali Imran [3]: 85). Sebenarnya masih abstrak yang dimaksud dalam ayat Al Qur’an diatas seperti Islam, agama, mencari.
Contoh berikutnya ialah seperti dalam contoh fallacy of missplaced concretness yang mana seorang penulis hendak mendukung argumennya dengan cara menggunakan otoritas, ayat al Qur’an.
Sering kali orang pertama memaksa lawan bicaranya untuk diam, tidak membantah, bahkan mengkafirkan yang membantah (dengan alas an membantah al Qur’an itu sendiri) setelah orang pertama itu dengan seenaknya mengutip ayat dari al Qur’an. Padahal seandainya lawan bicaranya itu hendak membantah, bukanlah al Qur’an yang dibantah, melainkan tafsiran seseorang itu.

6. Fallacy of Composition
Kekeliruan berfikir ini memeiliki pengertian dugaan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasrti juga berhasil untuk semua orang atau salah membandingkan sesuatu yang pada dasarnya berbeda. Contoh dari kekeliruan berfikir ini ialah disebuah kampong ada seorang pemuda berkreasi mengubah motornya menjadi ojek. Kemudian usahanya berhasil. Melihat ini, pemuda atau orang-orang lainnya berbondong-bondong membeli motor untuk di-ojek-kan. Akibatnya, karena lahan kerja ojek menjadi rebutan semua orang kampong, terjadilah berbagi kemiskinan. Itu diakibatkan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasrti juga berhasil untuk semua orang

7. Circular Reasoning
Circular reasoning digunakan untuk menyebut pemikiran yang berputar-putar, menggunakan konklusi (kesmpilan) untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju konklusi semula. Maksudnya ialah menggunakan kesimpulan (A) untuk mendukung penejasan atau dugaan (B) dan penjelasan atau dugaan (B) yang digunakan untuk memperkuat kesimpulan (A). kalau digambarkan sebagai berikut :

Contoh dari kekeliruan berfikir ini pernah penulis alami ketika penulis mengikuti Sidang Uum (SU) Bem FPIPS. Pada sidang itu hanya ada beberapa fraksi yang hadir, kira-kira 3-4 fraksi- , kemudian satu fraksi mengatakan bahwa ketidak hadiran fraksi-fraksi dalam SU Bem FPIPS disebabkan oleh ketidak pedulian atas adanya Bem FPIPS, kemudian penulis bertanya –ketika itu penulis duduk sebagai peninjau- bagaimana bisa tahu mereka, fraksi yang tidak hadir, tidak peduli akan adanya Bem FPIPS? Salah satu dari anggota fraksi mengatakan bahwa itu dibuktikan dari ketidak hadirannya pada SU

8. Argumentum ad Hominim (Blaming the Victim)
Tentu kita masih ingat dengan peristiwa tsunami di Aceh beberapa tahun kebelakang. Pada peristiwa itu tak pelak memakan ratusan ribu korban jiwa. Pada suatu kesempatan, ada seorang kakak tingkat mengatakan bahwa tsunami di Aceh mungkin adalah akibat atau adzab Allah kepada orang-orang Aceh. Kata beliau, Aceh itu merupakan serambi Mekkah tetapi kini penduduk disana ketika berkumandang adzan penduduk disana tidak menghiraukannya padahal kota itu terkenal dengan sebutan serambi Mekkah. Mungkin, penyebab tsunami itu ialah perilaku masyarakat Aceh sendiri yang kemudian menimbulkan adzab Allah. Ini didukung dari gelombang yang ada ketika tsunami belangsung, gelombang itu mirip atau menyerupai lafadz Allah dalam bahasa Arab. menurut penulis, kakak tingkat tersebut mengalami sebuah kekeliruan berfikir yang dinamakan argumentum ad hominim atau blaming the victim, karena orang itu menyalahkan korban dalam menjelaskan suatu peristiwa. Padahal, bencana tsunami itu diakibatkan oleh gejala alam berupa pergeseran lempengan bumi, dan tidak ada sangkut pautnya dengan perilaku masyarakat Aceh, terlebih keseluruhan masyarakat Aceh.
Pada sebuah kesempatan ruang perkuliahan ada dosen yang mengatakan bahwa orang yang miskin itu tetap bodoh dan tetap miskin itu dikarenakan oleh mereka sendiri. Mereka malas, katanya. Padahal menurut penulis, orang miskin tetap miskin dan bodoh bukanlah disebabka oleh orang tersebut. Bias saja orang itu malas karena sudah bosan dengan melulu ditolak ketika melamar pekerjaan, biaya sekolah yang mahal. Kenapa menyalahkan orang miskin?

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s