KEBANGKITAN NASIONAL DALAM PERSPEKTIF PEMBELAJARAN SEJARAH KRITIS

20 Mei memiliki arti tersendiri dalam benak bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, bangsa yang memproklamirkan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945 ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Penetapan tanggal 20 Mei sebagai perayaan Harkitnas ini didasarkan pada pembentukan organisasi yang awalnya membatasi cakupan geraknya sebatas pada penduduk Jawa dan Madura, yakni Budi Utomo (BU), sebuah organisasi yang kerap kali disebut sebagai pelopor organisasi pergerakan nasional.

Dalam pembelajaran sejarah di tingkat satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), tema yang membahas mengenai kebangkitan nasional terdapat pada materi mengenai perkembangan paham-paham baru dan pergerakan kebangsaan. Oleh karenanya, dalam pembelajaran sejarah mengenai pergerakan nasional tidak akan terlepas dari pembahasan kebangkitan nasional. Selain itu, walaupun secara eksplisit tidak dicantumkan pemaparan mengenai pelbagai organisasi pergerakan yang menjadi pelopor pergerakan nasional, pada umumnya para penulis buku teks sejarah untuk siswa SMA mengembangkannya sebagai sejarah organisasi.

Sebagai materi sejarah yang berisikan pemaparan perkembangan pelbagai organiasi pada masa pergerakan nasional, maka tidak mengherankan jika kemudian yang dipaparkan dalam buku-buku tersebut atau bahkan ketika guru mengajarkannya di kelas, adalah pelbagai fakta yang berhubungan dengan organisasi tersebut, seperti tahun berdiri, para pendirinya, tokoh-tokoh yang berdinamika dalam organisasi tersebut, hingga tujuan atau asas organisasi tersebut.

Dalam model pendidikan sistem bank yang dinyatakan oleh Paulo Freire, terdapat hubungan dikotomis antara manusia dan dunia (Murtiningsih, 2004: 73). Maksudnya, manusia dianggap semata-mata hanya ada di dalam dunia dan bukan bersama-sama dunia. Konsekuensi dari sistem ini adalah terdapatnya proses dehumanisasi berupa hubungan subjek-objek. Relasi ini memperlakukan siswa seperti laiknya tabungan yang diisi oleh penabung yang dalam hal ini guru. Dalam konteks belajar sejarah kebangkitan nasional atau sejarah pergerakan nasional, maka siswa diperlakukan oleh guru dengan memberikan pelbagai fakta yang berhubungan dengan materi sejarah tersebut tanpa melihat korelasinya dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, dalam pembelajaran sejarah model sistem bank ini, siswa teralienasi dari lingkungannya.

Penyampaian materi-materi pembelajaran sejarah yang hanya berkutat pada pemaparan fakta-fakta tersebut tentunya sangat merugikan bagi bidang studi itu sendiri, yakni bahwa terdapat kesan jika pelajaran sejarah di mata para siswa hanya mencakup angka tahun, nama orang, dan tempat. Said Hamid Hasan (2004: 12), seorang pakar kurikulum dan pendidikan sejarah dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyebutkan bahwa pengajaran sejarah di SMA di Jawa Barat masih memeperlihatkan kencerungan tersebut. Bahkan, ujar professor pendidikan sejarah tersebut, di negeri “termaju” dan super power seperti Amerika Serikat, masih menunjukkan bahwa materi pendidikan sejarah lebih banyak didasarkanpada pengetahuan faktual sejarah. Oleh karenanya pendidikan sejarah atau mata pelajaran sejarah yang diajarkan disekolah cukup jauh dari pernyataan historia magistra vitae (sejarah adalah guru kehidupan).

Pembelajaran Sejarah Kritis

Pembelajaran kritis dipersepsi sebagai realisasi dari teori kritis dari para pemikir Frankfurt School yang diaplikasikan di sekolah (Supriatna, 2007: 1). Salah seorang tokoh Frankfurt School yang cukup menaruh perhatian pada pengembangan pengetahuan yang bersifat kritis dan emansipatoris secara khusus pada intepretasi sejarah dan relevansinya dengan pelbagai masalah kontemporer adalah Jüergen Habermas. Dalam pembelajaran sejarah, kajian mengenai tema atau topik materi sejarah tertentu harus relevan dengan konteks masa kini, seperti kebijakan politik atau persoalan-persoalan kontemporer.

Dalam pembelajaran sejarah berupa materi yang berhubungan dengan hari kebangkitan nasional, yang dalam hal ini adalah sejarah pergerakan nasional, tidak dilakukan dengan memaparkan pelbagai fakta daripadanya, melainkan harus dihubungkan dengan kontes kekinian, seperti misalnya pentingnya pendidikan dalam mencerdaskan bangsa, kesenjangan dalam memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan dan pendidikan yang berkualitas, kesenjangan sosial pada generasi muda. Dengan mengangkat pelbagai isu kontemporer ini tentunya akan menghubungkan konteks kehidupan yang sedang dialami siswa dengan konteks yang terdapat dalam materi-materi sejarah, khususnya materi pergerakan nasional.

Menghubungkan materi sejarah dengan permasalahan sosial kontemporer yang dihadapi siswa dapat pula dijembatani melalui teknik bertanya kritis, yang didasarkan pada critical theory yang antara lain dikembangkan Habermas berupa ways of knowing. Pada aplikasinya dalam proses pembelajaran, model ways of knowing ini dilakukan oleh Fitzclarence dan Kemmis di mana mereka menyebutkan dalam Supriatna (2007: 118-119) tiga model pertanyaan sebagai berikut:

  1. Pertanyaan yang sifatnya teknis dimaksudkan pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi di lingkungan kita. Dalam konteks pembelajaran sejarah, pertanyaan ini seperti bagaimana suatu bangsa dapat maju, bagaimana pendidikan yang berkualitas dapat dirasakan oleh setiap anak bangsa
  2. Pernyataan paktis dan interpretatif dimaksudkan untuk melihat bagaimana manusia melihat sesuatu dan melakukan interpretasi terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Mengapa dokter Wahidin berusaha menghimpun dana beasiswa untuk memberikan pendidikan Barat kepada golongan priyayi Jawa, seandainya kamu menjadi salah satu pendiri atau anggota Budi Utomo apa yang akan kamu lakukan, mengapa sebagian masyarakat miskin enggan atau tidak bersekolah padahal sekolah sudah digratiskan
  3. Pertanyaan emansipatoris memfokuskan pembahasannya pada pengaruh kuasa terhadap pelbagai hal yang terjadi dan bagaimana orang-orang melakukan interpretasi dan penjelasan mengenai apa yang sedang terjadi dan kemudian mengapa sesuatu itu harus terjadi. Model pertanyaan ini dapat dikaitkan dengan tema kebangkitan nasional/pergerakan nasional dengan pertanyaan bagaimana pemuda pada masa penjajahan Belanda, dan masa kini menyalurkan asprasinya, Bagaimana pemuda dan pemudi Indonesia memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan pada masa penjajahan Belanda, Orde Baru, dan masa kini?

Model pembelajaran sejarah kritis ini dapat digunakan dengan menggunakan metode yang pada umumnya digunakan oleh guru, yakni ceramah, tanya jawab dengan siswa atau peserta didik ataupun diskusi. Dalam berceramah, guru dapat menyelipkan model pertanyaan tersebut ketika sedang memaparkan suatu materi sejarah.

Dalam meengkorelasikan materi-materi sejarah dalam pembelajaran sejarah disekolah dapat pula digunakan dengan model berfikir analogis. Dengan model ini, kita dapat membuat suatu perbandingan antara peristiwa-peristiwa pada masa lampau, misalnya masa kebangkitan nasional atau perherakan nasional, dengan permasalahan pada masa kini. Sebagai contoh, salah satu faktor penyebab munculnya pergerakan nasional ialah adanya eksploitasi Belanda terhadap sumber daya alam dan manusia Indonesia serta adanya perilaku yang sewenang-wenang pada warga pribumi. Salah satu faktor munculnya pergerakan nasional ini dapat dikaitkan dengan adanya perusahaan-perusahaan asing yang berada di Indonesia, dan permasalahan pelanggaran hak asas manusia serta tindakan diskriminasi pada masa kini.

Akhirnya, semoga dengan menghubungkan materi-materi pembelajaran sejarah dengan permasalahan sosial kontemporer yang dialami siswa dapat menjadikan pembelajaran sejarah menjadi meaningful, menyadarkan siswa mengenai realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, dan menjadikan sejarah sebagai guru kehidupan (historia magistra vitae). Wallahu’alam bishawab.

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s