MENGAPA MAHASISWA BERGERAK ? Tinjauan Historis dan Logika Tindakan

DALAM BUKU-BUKU SEJARAH, kita akan menemukan bahwa pergerakan nasional Indonesia ditandai dengan nama Boedi Oetomo/Budi Utomo (BU). Dengan mengesampingkan sifat kedaerahannya, BU merupakan organisasi pelajar/mahasiswa pertama di Nusantara ini. Bahkan, menurut sebagian sejarawan, BU adalah tonggak awal pergerakan nasional. BU beranggotakan pelajar-pelajar atau mahasiswa Jawa, Madura, Bali dan Sunda. Tujuan awal atau ranah pergerakan BU, sesuai keinginan dr. Wahidin, ialah perluasan pengajaran. Mengapa? menurut buku yang ditulis oleh Pringgodigdo, tujuan tersebut dirumuskan atas dasar keadaan yang menyedihkan dan mengecewakan atas sedikitnya lapangan pengajaran pada saat itu.

Jika kita melihat atau mendefinisikan pergerakan mahasiswa sebagai tindakan sadar yang dilakukan oleh mahasiswa untuk melahirkan perubahan dalam ranah sosial, moral ataupun bahkan politik, maka BU dapat disebut sebagai organisasi pertama yang termasuk dalam organisasi pergerakan mahasiswa. Artinya BU adalah organisasi pergerakan pertama di Indonesia.

Berikutnya ialah organisasi yang awalnya bernama Indische Vereeneging (Perhimpunan Hindia).Pada tahun 1922, Indische Vereeneging mengganti namanya menjadi Indonesische Vereeneging (Perhimpunan Indonesia). PI beranggotakan pelajar-pelajar/mahasiswa Hindia-Belanda yang belajar di negeri Belanda. Nah, melalui IV atau PI-lah untuk pertama kalinya nama Indonesia digunakan dalam peristilahan politik dan menyebut bangsa yang sebelumnya bernama Hindia-Belanda. Organisasi inilah yang kemudian memanifestokan kebijakan organisasinya untuk memerdekakan diri dari penjajahan Belanda. Sejarawan sepakat bahwa arah gerak organisasi ini dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran yang merebak di Eropa pada saat itu, misalnya ide tentang self detemnination-nya Wodrow Wilson.

Pada tahun 1965, situasi ekonomi Indonesia sangat sulit, kesejahteraan rakyat sangat memperihatinkan. Menurut cacatan ekonomi, Indonesia etika itu mengalami inflasi mencapai 650%. Pada tahun yang sama, terjadi sebuah tragedy yang hingga kini masih kontroversial, yakni Gerakan 30 September (G 30 S). Sebuah peristiwa penculikan enam orang perwira Angakatan Darat (AD) dan satu orang ajudan periwara AD.

Pada tahun 1966, ditengah-tengah situasi politik yang sedang panas dan kondisi ekonomi yang memburuk, mahasiswa melakukan demonstrasi-demonstrasi yang salah satu tuntutannya diajukan guna menuntut perbaikan pelbagai kondisi ekonomi yang memburuk. Salah satu tuntutan gerakan mahasiswa ketika itu, seperti yang tercantum dalam salah satu TRITURA, yakni turunkan harga/perbaikan ekonomi.

Berikutnya ialah pada tahun 1972, yakni ketika peristiwa Malari atau malapetaka lima belas Januari 1974. Tidak banyak orang yang mengetahui peristiwa ini. Peristiwa itu didorong oleh adanya penanaman modal Jepang di Indonesia, yang ditandai oleh datangnya PM Jepang Kakuei Tanaka, yang kemudian “mencoreng” muka Soeharto. Mahasiswa ketika itu mensinyalir merebaknya korupsi ditataran teras pemerintahan, melambungnya harga dan kuatnya posisi asisten presiden ketika itu.

Sepuluh tahun yang lalu, gelombang reformasi di Indonesia terjadi. Reformasi terjadi didahului oleh adanya krisis ekonomi yang melanda Asia, hingga akhirnya menejangkit Indonesia. Menurut pakar ekonomi, krisis ini disebabkan ole spekulan-spekulan asing yang bermain di bursa ekonomi Indonesia, ada yang mensinyalir bahwa George Soros adalah biang keladi terjadinya krisis ekonomi Asia dan Indonesia ketika itu. Harga-harga kebutuhan pokok melejit naik. Tuntutan akan reformasi terus meningkat seiring semakin memburuknya krisis ekonomi dan semakin jelas bahwa rezim tidak mampu mereformasi diri. Demonstrasi mahasiswa semakin marak. ABRI membiarkannya selama demonstrasi itu dilakukan dalam kampus. Tapi, awal Mei, mahasiswa sudah turun ke jalan-jalan di kota besar. Pada tanggal 12 Mei, penembak jitu ABRI menembak mati empat mahasiswa demonstran di Universitas Trisakti Jakarta. Salah satu tuntutan reformasi yang diajukan oleh para masiswa ktika itu ialah turunkan harga Sembilan bahan pokok (Sembako).

Nah, ini lah kiranya beberapa contoh gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa sepanjang sejarah Indonesia. Lalu, muncul sebuah pertanyaan, “mengapa mahasiswa bergerak?”

Mengapa Mahasiswa Bergerak ?

Gerak mahasiswa dapat diidentikan dengan tindakan mahasiswa. Tindakan mahasiswa ini dibatasi lingkupnya, yakni pada ranah tindakan yang dilakukan mahasiswa dalam menikapi pelbagai masalah sosial, moral ataupun politik bangsa. Nah, berikut ini adalah analisis saya mengenai alasan atau pelbagai hal yang membuat terjadinya gerakan mahasiswa atau jawab atas pertanyaan “mengapa mahasiswa bergerak?”.

Dalam logika tindakan terdapat empat jenjang atau tahap suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan sadar, yakni:

  1. Pengetahuan. Pengetahuan didefinisikan sebagai hadirnya sesuatu didalam benak atau pikiran tanpa adanya keraguang sedikit pun. Dalam melakukan pergerakan, mahasiswa memiliki pengetahuan yang melandasi pergerakannya itu. Pengetahuan inipun yang kemudian diakui oleh Arbi Sanit sebagai 3 faktor, dari 5 faktor yang Ia berikan, yang membuat mahasiswa peka terhadap permasalahan kemasyarakatan, yakni: pertama, kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.

Adapun pengetahuan yang mahasiswa miliki dapat berasal atau didapat baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian.

Pengetahuan yang melandasi pergerakan mahasiswa dalam bertindak atau bergerak dapat berupa pemikiran-pemikiran tokoh, pengetahuan atas kondisi sosial-ekonomi masyarakat, ataupun tingkah polah pejabat pemerintah yang jauh dari “kesalehan”. Singkatnya, pengetahuan yang mahasiswa dapat diperoleh dari interaksi mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, melalui langkah pertama ini, mahasiswa dapat memperoleh atau menemukan tujuan dari pergerakannya.

Pengetahuan yang melandasi pergerakan mahasiswa ialah pemikiran-pemikiran tokoh. Pada uraian singkat yang telah dijelaskan sebelumya, kita akan menemukan bahwa PI memanifestasikan kebijakan organisasinya dengan menuntut kemerdekaan. PI mengatakan bahwa

Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata; bahwa hal demikian itu hanya akan dapat dicapai oleh orang Indonesia sendiri, bukan dengan pertolongan siapa pun juga (Pringgodigdo, 1945: 57).

Pernyataan sikap PI ini mengingatkan pada penyataan Wodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat, setelah berakhirnya Perang Dunia I mengenai self determination.

Pengetahuan atas kondisi sosial-ekonomi masyarakat adalah pengetahuan berikutnya yang menjadi landasan mahasiswa melakukan pergerakan. Pada hal ini, terlihat garis perjuangan awal BU yang menginginkan adanya perluasan pendidikan bagi rakyat Jawa ketika itu. Pergerakan mahasiswa pada tahun 1966, 1974 dan 1998 pun dilandasi oleh pengetahuan semacam ini. Mereka menginginkan adanya perbaikan ekonomi masyarakat yang ketika itu sedang dilanda kesengsaraan.

  1. Motifasi. Pengetahuan itu disusul oleh dorongan hasrat (keinginan) dirinya untuk mencapai tujuan yang diketahui. Hasrat itu beragam, sebanyak sumbernya; tuntutan-tuntutan fisiologis, kecenderungan-kecenderungan instingsial, tendensi-tendensi emosional yang semuanya serpihan-serpihan dari sebauh naluri, yaitu ingin kekekalan dan kesempurnaan yang disingkat menjadi cinta diri. Maka, manusia hanya akan menginginkan sesuatu  yang sesuai dengan tuntutan  naluri cinta diri. Ia tidak akan terdorong untuk melakukan tindakan yang mengancam kelanggengan hidupnya,  dan mengurangi atau menjauhkan kesempurnaan dari dirinya.
  2. Kehendak. Tatkala manusia tahu dan termotifasi (oleh cinta diri) untuk bertindak, ketika itupula ia akan menghendaki tindakan itu secara suka rela.
  3. Kemampuan.  Tindakannya adalah aktif, bukan pasif. Pada tahap ini, pelbagai gerakan mahasiswa yang ada sepanjang sejarah Indonesia melakukan pelbagai tindakan atau perbuatan yang giat dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan dan dibalut atau dilengkapi oleh motifasi dan kehendak dari pelaku, mahasiswa.

Nah, tidak ada gerakan mahasiswa yang terlepas dari keempat tahapan tindakan ini. Sebuah gerakan mahasiswa memelukan kesemuanya ini. Sebuah pengetahuan saja mengenai kesengsaraan masyarakat tidak akan membuat mahasiswa bergerak. Pengetahuan mengenai kesengsaraan masyarakat yang dimiliki oleh mahasiswa, misalnya melalui pelbagai agitasi-agitasi, adalah tindakan mubadzir jika tidak menyentuh motifasi, kehendak mahasiswa yang kemudian dimanifestasikan dalam betuk kemampuan untuk gerak. Dari pentingnya dua tahap setelah pengetahuan ini lah yang kemudian dikatakan bahwa hanya mahasiswa yang memiliki idealisme saja-lah yang melakukan pergerakan. Karena dalam idealisme ini, mahasiswa selalu tidak suka mendengar kesengsaraan masyarakat dan kesenjangan antara pelbagai teori-teori atau wacana-wacana yang dimilikinya dengan realita yang terjadi dimasyarakat. Adanya kesenjangan ini kemudian oleh mahasiswa idealis diwujudkan (keinginan) dalam tindakan-tindakan nyata(kemampuan).[]

 

 

(Tulisan ini dibuat kira-kira 3,5 tahun yang lalau (sekarang 2011). tentu perlu banyak perbaikan disana-sini dari tulisan di atas. namun, saya menjaganya dan belum berfikiran untuk merubahnya, walaupun terdapat perbedaan pandangan saya sekarang dengan saya ketika tulisan ini dibuat. ini dilakukan agar salah satu bukti sejarah saya berifkir ini otentik & tidak berubah)

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s