MENENGOK SEKOLAH ISLAM DI CIREBON

Mungkin yang ada di benak pikiran sebagian dari kita saat mendengar Sekolah Islam akan muncul anggapan-anggapan seperti sekolah swasta, mahal, kurang berkualitas, tidak bergengsi dan sebagainya. Tapi tahukah Anda bahwa kurang lebih 10 tahun terakhir ini pertumbuhan sekolah Islam terutama di Kota Cirebon mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya dalam pendidikan dasar kita dapat menemukan nama Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nuurusshidiiq, SD Cirebon Islamic School (CIS), SDIT Sabilul Huda dan sebagainya. Pada pendidikan menengah muncul nama-nama SMP Islam Terpadu Nuurusshidiiq, SMP Darul Hikam, SMP Sekar Kemuning dan sebagainya ataupun pada level Sekolah Menengah Atas muncul nama-nama seperti SMAIT Nuurusshidiiq, SMA Sekar Kemuning dan sebagainya.

            Namun sebenarnya lembaga pendidikan formal yang menggunakan label Islam sudah muncul jauh sebelumnya yaitu adanya SD-SMP-SMA Islam Al Azhar, SMA Syarif Hidayatullah, SD-SMP-SMA-SMK Muhammadiyah, SD-SMP-SMA-SMK Al Irsyad dan sebagainya. Selain itu lembaga pendidikan Islam yang menggunakan nama madrasah pun sama yaitu sudah muncul jauh sebelumnya salah satu diantara seperti MI-MTs-MA An Nur, MTs-MA Salafiyah dan sebagainya.

 

Sekolah Islam sebagai Pendidikan Alternatif

Berbeda dengan madrasah, sekolah Islam adalah lembaga pendidikan formal yang menginduk dan mengacu kepada kurikulum dinas pendidikan. Biasanya muatan keIslaman dimasukkan kedalam mata pelajaran muatan lokal, ekstrakurikuler, penambahan jam pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, ataupun kegiatannya lainnya yang didasarkan pada nilai-nilai keIslaman.

Dengan berkembangnya kehidupan masyarakat di Cirebon yaitu meningkatnya jumlah orang tua anak yang berkarir serta memiliki kesibukan pekerjaan masing-masing maka kesempatan untuk mendidik anak-anaknya pun semakin berkurang. Oleh karenanya mereka cenderung menyerahkan pendidikan anak kepada pihak lain yang dianggap dapat mendidik sesuai dengan harapan orang tua. Cara berfikir sederhananya ialah “daripada menyewa pengasuh anak maka alangkah baiknya jika dititipkan ke sekolah, bukan hanya diasuh melainkan juga mendapatkan ilmu”. Oleh karena itu maka klop-lah antara kebutuhan masyarakat modern akan pendidikan dan pengawasan anak dengan munculnya sekolah-sekolah Islam tersebut terutama yang berlabel full day school.

Perkembangan lembaga pendidikan berbasiskan Islam sebenarnya adalah angin segar bagi pendidikan untuk masyarakat Cirebon bukan hanya sebagai pengganti peran orang tua dalam mendidik anak melainkan juga dapat memberikan ilmu tambahan dibandingkan lembaga-lembaga pendidikan formal umum lainnya. Jika di sekolah umum anak belum tentu mendapatkan pendidikan membaca al Qur’an yang cukup maka di sekolah Islam anak akan mendapatkan pendidikan al Quran baik dapat berupa mata pelajaran maupun kegiatan pembiasaan. Jika di sekolah umum siswa tidak diajarkan secara khusus tentang ibadah, maka pada sekolah Islam,siswa diajarkan hal tersebut. Dengan kata lain, sekolah Islam berdiri ditujukan sebagai sarana dakwah kepada masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai keIslaman dan mengintegrasikan pendidikan modern dengan nilai-nilai keIslaman.

Namun biasanya terdapat anggapan keliru dari sebagian orang tua yaitu ketika anaknya bandel, nakal atau label negatif lainnya maka kemudian mereka menyekolahkan anaknya di sekolah Islam dengan harapan agar tabiat atau perilaku anak dapat berubah menjadi baik. Tentu anggapan ini jelas sangat keliru karena perilaku anak yang membangkang, bandel, nakal, ataupun lainnya tidak serta merta berubah simsalabim ketika anak disekolahkan pada sekolah Islam karena pembentukan kepribadian anak itu multifaktoral dan agen sosialisasi (penanaman nilai dan norma) anak yang paling utama adalah keluarga kemudian disusul faktor-faktor lainnya yaitu peer group, media masa, sekolah dan sebagainya.

Sebagai contoh penulis beberapa kali menemukan fenomena tersebut yaitu si anak dipindahkan ke sekolah menengah berbasis Islam karena pernah menyalahgunakan obat-obatan atau kenakalan lainnya dan orang tua berharap agar anaknya berubah menjadi sholeh/sholehah, padahal pembentukan karakter anak pada usia sekolah mengenah terutama menengah atas cenderung sudah terbentuk, dan akhirnya si anak hanya patuh melaksanakan ibadah di sekolah tetapi tidak saat di rumah karena pendidikan oleh orang tuanya di rumah tidak selaras dengan sekolah.

Tantangan Sekolah Islam

Pertumbuhan sekolah Islam di Cirebon sejauh yang diamati oleh penulis nampaknya hanya baru dirasakan secara signifikan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat sebatas pada jenjang sekolah dasar. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan sekolah dasar Islam yang lebih banyak kuantitasnya dibandingkan dengan sekolah Islam pada level sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Bahkan sepertinya pertumbuhan jumlah SMK umum lebih signifikan ketimbang SMP/SMA/SMK berbasis Islam, dan yang miris ialah ditutupnya beberapa sekolah berbasis Islam seperti SMA Al Irsyad.

Selain itu, jika kita amati di sekitar Kota Cirebon saat Penerimaan Peserta Didik Baru, calon siswa baru yang melanjutkan ke tingkat sekolah menengah sepertinya lebih banyak melanjutkan ke sekolah-sekolah negeri umum ketimbang sekolah mengengah berbasis Islam. Hal ini dapat dilihat dari terus berkurangannya jumlah murid (yang berasal dari kota Cirebon) pada sebagain besar sekolah Islam pada khususnya dan sekolah swasta pada umumnya. Sebagai contoh dapat ditemui di SMA Islam Al Azhar, SMA Sekar Kemuning, dan SMA Syarif Hidayatullah yang jumlah siswa di kelas X pada tahun pelajaran 2014/2015 jumlahnya turun dari tahun ajaran sebelumnya. Kemudian SMA Islam Terpadu Nuurusshiddiiq meskipun kuantitas siswa terus bertambah dari tahun-tahun sebelumnya namun jumlah siswa yang berasal dari wilayah Kota Cirebon terus menurun dan mungkin karena berbasiskan pesantren maka pada umumnya siswa-siswanya kebanyakan berasal dari luar kota Cirebon.

Tentu cukup mengherankan juga ketika banyaknya sekolah dasar Islam dan memiliki kuantitas siswa mencapai ratusan pada setiap sekolahnya namun seberapa banyak siswa-siswa tersebut melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah Islam ? Jika dibandingkan tentu kelinieran siswa bersekolah di sekolah Islam tidak sekonsisten mereka yang melanjutkan pendidikan ke sekolah agama lain, Kristen/Katholik misalnya. Bahkan tidak sedikit orang tua Islam atas nama prestasi akademik menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.

Pada aspek lain, kurangnya minat atau menurunnya minat masyarakat Kota Cirebon terhadap sekolah Islam terutama sekolah menengah Islam bisa jadi disebabkan oleh mindset sebagian masyarakatnya. PPDB yang tidak pernah becus setiap tahunnya di kota ini seperti menghalalkan berbagai cara agar masuk sekolah negeri tentu menjadi indikator bahwa masyarakat Kota Cirebon memiliki kencerungan sekolah negeri minded.

Bisa jadi dalam pikiran sebagaian masyarakat sekolah Islam adalah lembaga pendidikan swasta, maka kemudian mereka beranggapan bahwa menyekolahkan anaknya di sekolah swasta atau bersekolah di sekolah swasta maka dianggap tidak bergensi/elit, atau tidak sebagus jika dibandingkan dengan sekolah negeri (terutama pada level sekolah menengah).

Selain itu berbondong-bondongnya calon siswa baru ke SMK dengan harapan langsung dapat kerja atau cepat kerja, dan berdirinya SMK-SMK beberapa tahun terakhir baru jelas menunjukan kecenderungan SMK minded. Padahal asumsi masyarakat dan propaganda pemerintahan “SMK bisa” atau lulus SMK langsung bekerja atau cepat kerja sebenarnya tidak benar seluruhnya. Berdasarkan penelitian BPS baru-baru ini pada tahun 2015 menunjukan bahwa angka pengangguran di Indonesia didominasi oleh lulusan SMK.

Sekolah Islam pada umumnya bukanlah sekolah murah. Jika kita perhatikan sekolah Islam berlabel full day school baik pada sekolah dasar maupun menengah sudah memiliki label tersendiri dalam benak pikiran sebagian masyarakat yang lain yaitu mahal. Oleh karenanya pada sebagian masyarakat yang lain menyekolahkan anaknya di sekolah Islam bukan karena aspek pendidikannya melainkan urusan gengsi. Memang tidak seharusnya dalam pendidikan tidak berlaku istilah mahal karena ilmu tidak dapat dibeli oleh uang. Namun bagi sebagian masyarakat kelas ekonomi tertentu akan berfikir ulang untuk menyekolahkan anaknya di sebagian sekolah Islam yang berlabel full day school ataupun boarding school.

Pada ranah prestasi tentu prestasi sekolah Islam tidak perlu diragukan, jika kita melihat koran harian local Cirebobn tentu sering dijumpai penghargaan-penghargaan yang diraih oleh siswa sekolah Islam. Namun jika penulis telusuri pada kegiatan Lomba Pentas PAI Sekolah Menengah Atas tahun 2015 dimana dilombakan perlombaan keIslaman justru juara umum perlombaan tersebut diraih oleh sekolah negeri bukan sekolah Islam ! Mengapa demikian ? Hemat penulis hal ini bisa jadi disebabkan oleh mindset masyarakat Kota Cirebon yang negeri minded. Hal ini kemudian membawa generasi Islam yang unggul tidak tersebar secara merata, melainkan terkumpul pada sekolah umum favorit. Selain itu tidak ada jaminan pula bahwa mereka menjadi juara itu atas bimbingan sekolah atau memang bakat mereka sendiri. Selain itu, bisa jadi factor pembimbingan yang kurang maksimal dari guru SMA-SMA tersebut.

Inilah sebagian permasalahan yang harus dijawab oleh pemangku kepentingan pendidikan Islam tepatnya sekolah Islam di Kota Cirebon.

Penutup

Seharusnya tidak ada lagi siswa atau orang tua yang merasa gengsi menyekolahkan anaknya atau bersekolah di sekolah Islam ataupun meletakkan sekolah Islam pada prioritas kedua dibawah sekolah negeri. Karena sebagai umat Islam tentu kewajiban kita semua untuk mendukung secara nyata eksistensi sekolah Islam.

Sebagai umat Islam sudah sepatutnya kita menanamkan nilai-nilai keIslaman kepada anak keturunan kita dan penanaman nilai-nilai tersebut dapat dilanjutkan dengan menyekolahkan anak keturunan kita pada sekolah Islam ataupun lembaga pendidikan Islam. Pendidikan Islam pada jelas bukan hanya tanggung jawab pemilik lembaga pendidikan Islam atau pemerintah (kementrian agama) semata melainkan tanggung jawab kita semua sebagai umat Islam.

Namun demikian juga seharusnya sekolah Islam pun bukan sekedar untuk menjadi ajang mengeruk keuntungan. Biaya yang mahal atau mencari siswa sebanyak-banyaknya demi mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah melimpah namun tidak mendidik peserta didiknya secara maksimal dan Islami. Sebagimana dinyatakan oleh Dr. Adian Husaini bahwa jika niat mendirikan sekolah Islam bukan karena lagi semangat jihad dalam bidang keilmuan, tetapi dimotivasi untuk mengeruk keuntungan semata, maka niat yang salah itu akan merusak seluruh aspek pendidikan Islam.

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s