MENGHAPUS PELANGI HOMOSEKSUAL

009668100_1435788780-Cover     Siapapun yang aktif dalam jejaring sosial dan menyimak pemberitaan terkini tentu akan mengetahui perkembangan kehidupan masyarakat dunia terbaru yaitu dilegalkannya pernikahan sesama jenis di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Sebelumnya hanya beberapa negara bagian saja yang mengakui pernikahan tersebut, namun pada 26 Juni 2015 akhirnya U.S. Supreme Court‘s atau Mahkamah Konstitusi Amerika Serikat melegalkannya secara keseluruhan.

Walau tidak seheboh pemberitaan mengenai tewasnya Engeline di Bali, namun jelas perkembangan di Amerika Serikat tadi dianggap sebagai angin segar oleh kalangan pendukung homoseksual di Indonesia. Kita bisa saksikan misalnya di profil picture facebook, twitter, Black Berry Messenger dan sebagainya sebagian orang di Indonesia mewarnai foto dirinya tersebut dengan warna-warni khas pendukung lesbian, gay, biseksual dan trasnseksual (LGBT) dan tidak sedikit selebritis Indonesia pun yang mendukungnya.

Kodrati atau Penyakit ?

Dalam perspektif Islam dan agama-agama lainnya di Indonesia tentu pernikahan memiliki arti ikatan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada ajaran agama tersebut. Jadi pernikahan memiliki arti sebuah ikatan yang didasarkan pada orientasi atau kecenderungan seksual antara laki-laki dengan perempuan (heteroseksual). Namun jika kita amati maksud pernikahan dari kalangan liberal dan sekular akan menemukan bahwa pernikahan heteroseksual itu adalah hanya salah satu dari wujud ikatan kecenderungan seksual lainnya melalui perkawinan seperti homoseksual dan biseksual.

Pendukung homoseksualitas memandang bahwa kecenderungan tertarik pada sesama jenis kelamin (laki-laki tertarik pada laki-laki dan perempuan tertarik pada perempuan) itu adalah pemberian Tuhan dan bersifat genetik/hormonal (kodrati). Mereka menganggap bahwa seseorang tidak dapat memilih kecenderungan seksualnya apakah kepada laki-laki, perempuan atau sekaligus keduanya. Sama halnya dengan seseorang tidak pernah dapat memilih memiliki orang tua dari suku Jawa, Sunda, maupun Bugis.

Menurut pendukungnya, pernikahan sesama jenis kelamin yang didasarkan pada kecenderungan seksual kepada sesama jenis kelamin disebabkan oleh kromosom Xq28 atau juga karena faktor hormon. Mereka pun beralasan bahwa homoseksual bukanlah sebuah kelainan atau penyakit melainkan sebuah fenomena yang normal. Hal ini didasarkan pada “kitab” Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) dinyatakan bahwa homoseksualitas bukanlah gangguan jiwa.

Pendapat berbeda dari kalangan akademisi yang bukan berhaluan liberal maupun sekular. Prof. Dadang Hawari, ahli psikiatri muslim dan ahli penyajik jiwa dari Universitas Indonesia malah menyatakan bahwa anggapan homoseksual disebabkan oleh faktor genetik atau hormonal hanyalah rasionalisasi dari kaum homo sendiri. Beliau pun menganggap bahwa homoseksual adalah penyakit dan dapat diobati. Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual).

Menanggapi klaim pendukung homoseksual yang menyebutkan bahwa kecenderungan seksual tersebut bukanlah penyakit, Rita Soebagio, M.Si, Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA), sebagaimana dikutip dalam Hidayatullah.com, menyebutkan bahwa dari tujuh penyusun DSM lima diantaranya adalah pengidap homo dan biseksual. Jadi sangat wajar jika dalam “kitab” yang menjadi andalan pendukung homoseksual itu tidak mencantumkan kencerungan seksual tersebut bukanlah penyakit gangguan jiwa.

Perang Pemikiran

Perkembangan masyarakat Indonesia yang terbuka atas arus informasi melalui internet dihadapkan pada dua kutub yang saling belawanan yaitu menerima pernikahan sesama jenis dengan homoseksualitas sebagai jiwanya dan pernikahan berbeda jenis kelamin dengan heteroseksualitas sebagai jiwanya. Tanpa disadari propaganda-propaganda mendukung pernikahan sesama jenis dan homoseksualitas disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia diantaranya mempopulerkan warna-warni khas LGBT sebagai efek foto dalam jejaring sosial, menulis artikel maupun pernyataan-pernyataan mendukung ide-ide atau gagasan-gagasan yang menganggap homoseksualitas adalah kodrat manusia dan pernikahan sesama jenis kelamin adalah wujudnya, penyebaran pandangan-pandangan bahwa “cinta telah menang” dengan dilegalkannya pernikahan tersebut di beberapa negara, dan lain sebagainya.

Sebagaimana diketahui bahwa semua agama di Indonesia jelas menolak bentuk pernikahan sesama jenis kelamin dan homoseksualitas. Dalam Islam sendiri, sebagai agama mayoritas masyarakat Indonesia, homoseksualitas adalah perbuatan yang sangat dilarang karena termasuk perbuatan yang melampaui batas dan hal ini menjadi salah satu penyebab diadzabnya kaum Nabi Luth as. oleh Allah swt. Selain itu, Islam pun memandang bahwa pernikahan bukanlah sekedar menyatukan cinta diantara manusia dan menyalurkan hasrat seksual sebagaimana dinyatakan oleh pendukung pernikahan sesama jenis kelamin.

Islam memandang pernikahan sebagai wujud ibadah kepada Allah swt., memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, memperoleh keturunan dan mendidiknya, mengendalikan hawa nafsu dan sebagainya. Melalui pernikahan kemudian memunculkan hubungan kekerabatan serta mahram, pembagian waris dan sebagainya. Dengan adanya pernikahan sesama jenis maka luluh lantaklah sistem dalam ajaran Islam itu sendiri oleh karenanya Islam sangat menolak dan tidak pernah menganggap homoseksualitas dan pernikahan tersebut.

Meskipun ada sebagian kecil pihak-pihak yang mengatasnamakan atau menganggap diri sebagai perwakilan dari agama tertentu (Islam) dengan menyatakan dukungannya terhadap homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis tetap saja mereka tidak mewakili padangan agama tersebut secara keseluruhan. Mereka justru menafsirkan ayat-ayat dalam kitab suci (dalam hal ini Al Qur’an) sesuai dengan kecederungan awalnya yaitu mendukung homoseksualitas dan pernikahan sejenis dengan perspektif kebebasan (liberalisme) dan menganggap penolakan terhadap kecenderungan seksual dan pernikahan menyimpang tersebut sebagai penindasan atau penguasaan dari mayoritas kepada minoritas, dari superordinat kepada subordinat bukan pada perspektif keimanan/keagamaan.

Dilegalkan di Indonesia ?

Angin segar yang diberikan beberapa negara dunia dengan melegalkan pernikahan sesama jenis tersebut tidak akan berhembus kencaang di Indonesia. Permohonan untuk diakuinya pernikahan berbeda agama pun baru-baru ini ditolak oleh Mahkamah Konstitusi (MK), apa lagi jika permohonan tersebut ditujukan untuk melegalkan pernikahan sesama jenis kelamin ?

Masyarakat Indonesia bukanlah penganut kebebasan selayaknya negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis tersebut. Indonesia didasarkan pada Pancasila dimana sila Ketuhanan yang Maha Esa menjadi ruh bagi sila-sila lainnya dan produk hukum lainnya. Selain itu, masyarakat Indonesia pada umumnya menjunjung tinggi norma-norma yang ada di masyarakat selain norma hukum saja.

Meskipun para pendukungnya menganggap bahwa homoseksualitas ada dalam tradisi masyarakat Indonesia seperti kelompok Bissu pada masyarakat Bugis. Berdasarkan pernyataan Prof Dadang Hawari yang membantah homoseksual disebabkan faktor genetik serta hormon, penulis pun menganggap bahwa sebenarnya mencontohkan kelompok Bissu sebagai homoseksual atau menikah sesama jenis kelamin sebagai tradisi asli Indonesia jelas hanya pembelaan diri mereka saja. Karena jelas Bissu tidak menikah baik sesama jenis kelamin maupun berbeda jenis kelamin.

Penutup

Jelaslah bahwa sebenarnya homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis adalah bentuk penyimpangan. Bagi pendukungnya hal tersebut dianggap bukan penyimpangan karena tergantung perspektif yang digunakan adalah liberalisme/kebebasan serta sekularisme. Dalam perspektif agama manapun jelas pernikahan sejenis dan homoseksualitas dilarang.

Dengan disebarkannya ide-ide menolak homoseksual dan pernikahan sesame jenis setidaknya akan membendung berkembangannya penyimpangan tersebut. Namun, jika ide-ide penyimpangan tersebut terus disebarkan jelas akan memperngaruhi generasi penerus Indonesia ke arah penyimpangan tersebut. Kita sebagai umat beragama, muslim khususnya, menjadikan keluarga dan penerus keluarga agar berkembang sesuai ajaran agama adalah salah satu tujuan membentuk keluarga.

Sebagai amar ma’ruf nahy munkar, Kita berkewajiban untuk menutup segala kemungkinan-kemungkinan anggota keluarga kita untuk mengarah mendukung atau mengikuti penyimpangan-penyimpangan seksual tersebut. Sebagaimana dinyatakan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa “barang siapa mengajak kebaikan maka ia memperoleh pahala seperti mengerjakan kebaikan itu tanpa sedikitpun dikurangi pahalanya. Dan barang siapa mengajak pada keburukan, ia berdosa seperti orang yang mengerjakan dosa itu tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa yang mencontohkannya itu”. Semoga saja tulisan ini setidaknya membendung merebaknya dukungan dan menghapus meskipun secuil pelangi homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis kelamin.

Tentang Ashril Fathoni

Ashril dilahirkan di Cirebon tepatnya di rumah Sakit Sumber Kasih, pada 3 Mei 1986. Pernah sempet kuliah selama empat setengah tahun di UPI PT BHMN Jurusan Pendidikan Sejarah. Semasa kuliah, Ashril tercatat sebagai warga Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) dan pernah menjadi Ketua Bidang I Keorganisasian 2006-2007, dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat PIPS UPI 2008-2009. Aktivitas atau tepatnya rutinitas kesehariannya ialah mengajar pada bidang studi Sejarah dan Sosiologi di SMA IT Nuurusshidiiq Cirebon.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s